My Opinion about Business of Fisheries and Marine's Sector
- Mei 30, 2020
- By ADAM'S DIARY
- 0 Comments
Assalamualaikum wr.wb
Pertama – tama saya ingin
mengucapkan :
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441
H , Minal Aidzin walfa Idzin mohon maaf lahir dan batin.
Pada kesempatan kali ini saya
akan membagikan hasil sharing session
saya bersama Kak Ella Mustika (masih dalam edisi keadaan pandemi COVID – 19).
Update Lomba
Well, ingat ketika kemarin saya mengapply
untuk mengikuti berbagai perlombaan untuk proejct AUV ? Hasilnya memang belum
rezeki sepertinya ya teman – teman. So, nanti akan saya lanjutkan di lomba –
lomba selanjutnya jika ada kesempatan.
Berikut sertifikat peserta dari lomba :
Oh iya FYI saya juga ikut kompetisi menulis sastra (katanya tingkat internasional hmmm wwkwk). Alhamdulilah saya mendapat kategori “Competent Writer” dan mendapatkan beberapa marchendise. Hehe
Sekian result dari kompetisi yang
sudah saya jalani.
Nah sekarang ayo kita back to the next project
Research About Consumer’s Problem.
Kak Ella berpesan kepada saya bahwa apa yang saya lakukan kemarin itu sebenarnya tidak sesuai dengan timeline bagaimana membuat start up yang benar. Seharusnya saya mencari masalah terlebih dahulu, bukannya malah membuat solusi terlebih dahulu. Akan ada banyak variabel yang memang mempengaruhi pembuatan sebuah usaha. Oleh karenanya dibutuhkan yang namanya “Research”. AUV project yang saya buat kemarin memang membuat saya bingung dan ada berbagai macam pertanyaan seperti :
Hai folks !
Siapkan catatan
kalian ya ! Kali ini kita akan belajar mengenai sonar !
Sebelum kita membahas tentang
sonar, mari kita pahami terlebih dahulu definisi suara.
Suara adalah rangkaian peristiwa
fisik yang dihasilkan oleh getaran benda atau getaran suatu benda.Getaran yang
dimaksud berupa sinyal analog dengan amplitude (simpangan terjauh) yang berubah
berdasarkan waktu. Suara membutuhkan medium untuk merambat, sehingga suara
tidak dapat merambat pada ruang kedap udara.
And….. pengertian sonar sendiri
adalah :
“Sonar mrupakan sebuah metode yang memanfaatkan perambatan suara di
dalam air yang bertujuan untuk mengetahui keberadaan objek atau navigasi di
dalam air”
Sonar dibagi menjadi dua, yaitu
sonar alami dan sonar buatan.
Sonar Alami
Setiap mahluk hidup menggunakan
suara atau ekolokasi untuk melakukan komunikasi termasuk biota laut. Ekolokasi
disebut juga sebagai sonar alami (suara yang muncul dari biota itu sendiri).
Biasanya biota yang memiliki kemampuan ekolokasi mengeluarkan bunyi dan
menerima pantulan bunyi tersebut dari objek yang nantinya digunakan sebagai
identifikasi objek atau navigasi.
Mekanisme ekolokasi mamalia laut
Kita simak morfologi lumba umba
berikut ini.
Mekanisme ekolokasi lumba – lumba
dimula dari organ moneky lips sebagai sumber pembentukan suara. Suara yang
dihasilkan oleh monkey lips kemudia diperkuat oleh organ melon (melon disini
bukan buah ya… kawan – kawan hehehe)
mungkin lebih kerennya si melon ini bisa disamakan sebagai amplifier yaitu
penguat sinyal. Aliran suara yang sudah diperkuat kemudian dikeluarkan melalui
ubang hembus dan dipancarkan menuju objek yang akan diidetifikasi. Selanjutnya
objek akan memantulkan kembali ekolokasi yang dihasilkan oleh lumba – lumba.
Uniknya adalah… Lumba – lumba menerima pantulan suara melalui mulutnya (lebih
spesifiknya rahang bagian bawah) yang kemudian dialirkan ke telinga tengah dan
sinyal trsebut dikirim ke otak lumba – lumba. Lumba – lumba akhirnya akan
mengkarakterisasi dan mendapatkan hasil dari identifikasinya melalui ekolokasi.
Oh iya setiap biota memiliki
keistimewaannya sendiri untuk menciptakan sinyal alami ya guys
Contoh lain yaitu......
Ikan gulma
Sonar buatan
Sonar buatan adalah suara yang
dihasilkan dari benda – benda baik itu sengaja atau tidak sengaja diciptakan. Contohnya
seperti : suara DVD, gesekkan kursi, kapal selam dan masih banyak lagi. Sonar
buatan dibuat untuk membantu kegiatan sehari – hari yang tercipta dari adanya
sonar alami. Untuk membuat sonar buatan, tentunya kita harus memahami terlebih
dahulu karakteristik suara yang dihasilkan.
Setiap mahluk hidup memang
memiliki frekuensi suara yang berbeda – beda dan memiliki fungsi yang berbeda –
beda juga. Hal – hal positif inilah yang nantinya akan dibuat menjadi semacam
instrumentasi yang bisa membantu manusia. Mengingat manusia sendiri hanya
b=mampu mengeluarkan dan mendengarkan frekuansi dengan range 15 Hz – 20.000 Hz
saja.
Praktikum yang kami lakukan dalam
materi kali ini adalah
Mengidentifikasi biota laut apa saja yang memiliki berbagai jenis ekolokasi.
Membandingkan peramtan suara dalam sebuah gelas. Gelas diberikan perlakuan berbeda (diisi air dengan volume yang berbeda – beda).
Gambar di atas menunjukkan
prinsip kerja ekolokasi dari kelelawar dan lumba lumba dalam mengidentifikasi
objek. Kemudian prinsip tersebut menjadi inovasi untuk pembuatan kapal selam. Suara lebih cepat merambat di media air (tiga
kali lipat lebih cepat diandingkan di udara). Kesimpulannya, memang alat – alat
yang kita temui saat ini sejatinya berasal dari nature.