Mentor’s advice : Research about customer’s problem

Assalamualaikum wr.wb

Pertama – tama saya ingin mengucapkan :

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H , Minal Aidzin walfa Idzin mohon maaf lahir dan batin.

 

Pada kesempatan kali ini saya akan membagikan hasil sharing session saya bersama Kak Ella Mustika (masih dalam edisi keadaan pandemi COVID – 19).

Update Lomba  

Well, ingat ketika kemarin saya mengapply untuk mengikuti berbagai perlombaan untuk proejct AUV ? Hasilnya memang belum rezeki sepertinya ya teman – teman. So, nanti akan saya lanjutkan di lomba – lomba selanjutnya jika ada kesempatan.

Berikut sertifikat peserta dari lomba :

                                          

Oh iya FYI saya juga ikut kompetisi menulis sastra (katanya tingkat internasional hmmm wwkwk). Alhamdulilah saya mendapat kategori “Competent Writer” dan mendapatkan beberapa marchendise. Hehe       

                                         

Sekian result dari kompetisi yang sudah saya jalani.

Nah sekarang ayo kita back to the next project

Research About Consumer’s Problem.

Kak  Ella berpesan kepada saya bahwa apa yang saya lakukan kemarin itu sebenarnya tidak sesuai dengan timeline bagaimana membuat start up yang benar. Seharusnya saya mencari masalah terlebih dahulu, bukannya malah membuat solusi terlebih dahulu. Akan ada banyak variabel yang memang mempengaruhi pembuatan sebuah usaha. Oleh karenanya dibutuhkan yang namanya “Research”. AUV project yang saya buat kemarin memang membuat saya bingung dan ada berbagai macam pertanyaan seperti :

“Akan saya apakan AUV ini nanti kedepannya ?”

“Apa yang dapat diuntungkan ?”

“Permasalahan apa yang diselesaikan ?”

Berbagai macam spekulasi pun muncul yang pada akhirnya saya sendiri juga tidak tahu kalau AUV benar – benar dibutuhkan atau tidak.

Akhirnya Kak Ella pun memberikan solusi bagaimana kalau kita memulai research terlebih dahulu mengenai apa saja permasalahan yang ada di masyarakat.

 “Baru nanti kita diskusikan apa yang pas untuk permasalahan tersebut”

Jadi saya mencoba berfikir untuk menghubungi teman – teman saya terlebih dahulu barangkali ada yang memang punya rencan bisnis di bidang perikanan dan kelautan yang ingin dijalankan. Karena berkaca dari pengalaman saya jika menanyakan langsung ke orang – orang “besar” sepertinya butuh pendekatan dan latihan terlebih dahulu.

 

Gak mungkin kan tiba – tiba nanya wkkw saya harus mempelajari pendekatan terlebih dahulu.

Kak Ella menyarankan saya untuk menyusun strategi dan mempelajari tentang research menjalankan sebuah bisnis.

 

Sebenarnya semua rancangan dari pembangunan start up akan menghasilkan sebuah output yang nantinya akan ditujukkan kepada para invenstor dan berisikan inormasi mengenai bisnis yang akan dijalankan yang disebut dengan Pitch Deck. Setelah saya baca – baca, rupanya banyak sekali step yang harus dilewati untuk membuat Picth Deck.

 

Oke berarti kita mulai ke yang ringan terlebih dahulu….

Inilah susunan untuk membuat sebuah Pitch Deck start up

 

PROBLEM

Case ini mengungkapkan ada 3 aspek utama yang harus dijawab :

  1. Aktivitas biasa yang dilakukan masyarakat apa ?
  2. Kesulitan apa yang dialami masyarakat ketika melakukan aktivitas tersebut ? 
  3. Bentuk solusi yang ada saat ini ?

   

SOLUTION

Pada bagian ini kita perlu menjelaskan solusi menurut pandangan kita dalam menghadapi masalah tersebut. Tidak perlu secara kompleks tapi gambaran umumnya saja.

 

GO TO MARKET

  1. Kelebihan yang dilakukan saat memasarkan produk/jasa ?
  2. Cara untuk mendapatkan pengguna di masa – masa awal ?
  3. Siapa mitra atau pengguna setia di masa awal ?

 

LOOKING FORWARD

Aspek ini akan menanyakan tentang rencana kedepannya seperti apa. Serta meliputi pertanyaan sebagai berikut :

  1. Kapan produk atau jasa tersebut diluncurkan ?
  2. Pembuatan tim untuk melancarkan proses pembuatan ?


Saya mulai menjawab susunan Pitch Deck di atas dengan studi kasus yang terjadi.

 

PROBLEM

Mengingat Indoensia merupakan negara maritim yang seharusnya masyarakat Indonesia terpenuhi kebutuhan proteinnya. Banyak masayarakat yang menginginkan ketersediaan konsumsi ikan untuk sehari – hari. Adapun keluh kesah nelayan yang merasa keuntungannya yang terbilang kecil saat menjual hasil tangakapannya kepada tengkulak ikan. Berbeda jika nelayan tersebut menjualnya sendiri.

Kesulitan masyarakat memang bermasalah dari segi mobilitas atau distribusi berbagai produk perikanan untuk sampai ke konsumen. Juga sedikitnya jaringan yang dimiliki para nelayan sehingga mereka tidak memiliki pilihan lain. Ada beberapa penjual yang memang menjual ikan namun dengan kualitas yang biasa – biasa saja. Tidak sedikit juga masyarakat pada akhirnya lebih memilih produk perikanan impor.     

SOLUTION

Solusi yang bisa saya sarankan adalah membuat suatu jaringan dari penyedia produk atau jasa perikanan. Jaringan disini berarti adanya hubungan timbal balik antara bagian produksi dan bagian pemasaran. Namun saya sendiri masih belum terlalu yakin bisa menuntaskan permasalahan yang terjadi. 

 

GO TO MARKET  

  • Kelebihan memasarkan produk perikanan tentunya dapat menjadi potensi usaha, meninjau dari kurangnya kompetitor yang terjadi di pasar.
  • Untuk memperoleh consumer awal adalah dengan menjual produk perikanan dengan jangkauan pasar yang luas.
  • Mitra atau consumer setia akan terlihat saat produk mulai dipasarkan.

 

LOOKING FORWARD

Pengembangan kedepan dari bisnis ini yaitu dengan menciptakan era modernisasi dalam sektor perikanan.  

 

FEEDBACK

Ngomong – Ngomong guys ….

Ada feedback yang baik dari salah satu teman saya. Namanya Adel mahasiswa Politeknik Negeri Bandung. Singkat cerita Adel menghubungi saya mengenai rencana bisnis perikanan yang berpotensi dilakukan di daerahnya (Pusaka, Subang) kebetulan dekat dengan kampung halaman saya. Adel memiliki kenalan dengan penyedia berbagai jenis ikan seperti bandeng, ikan pindang dan udang. Adel menyarankan kepada saya mengenai tata cara menjalankan bisnis ini. Adel memiliki konsep untuk kedepannya bekerja sama dengan saya menjadi pelaku produksi yang mana nantinya kita sebagai pengolah bahan mentah. Pengolahan disini merujuk pada produk ikan kalengan yang nantinya bisa dijual di masyarakat.

“Menurut saya, ide ini boleh juga. Mengingat saya juga ingin belajar bagaimana menjadi pelaku ekonomi di bidang perikanan dan kelautan secara real. Ingat kata kak Ella kunci nya adalah sebuah konektivitas, maka akan saya mulai bangun koneksi di lingkup saya sekarang ini.”

Tanggapan Kak Ella : 

Feedback yang diberikan teman saya dapat menjawab permasalahan atau pertanyaan - pertanyaan yang menjadi permasalahan di masyarakat. Konektivitas ini bisa dikembangkan dan dijadikan sebuah bisnis. Step selanjutnya, adalah menentukan tujuan bisnis ini akan seperti apa. Kak Ella memberikan contoh pilihan seperti : menjadi suplier, pengolah, mendirikan warung atau toko sendiri. Kak Ella mempersilakan saya untuk melanjutkan membuat konsep dengan benar. Sehingga nantinya bisa mencapai pembuatan Pitch Deck yang bisa ditujukan kepada para investor. Satu hal lagi yang baru saya pelajari ...

Kak Ella menambahkan : 

"Jangan mengkhawatirkan dulu terhadap modal. Siapkan saja terlebih dahulu konsepp yang matang (sebuah bussines plan) yang nantinya bisa ditujukan kepada investor"

"Membuat bisnis emang paling pas itu sekitar 2 sampai 3 orang. Jangan lebih karena nanti susah untuk menyatukan pendapat. Jangan sendiri juga nanti pusing sendiri" 

 Oke Kak Ella ! Let's Start and Research again guys !!

Akhir kata, saya ingin memohon maaf apabila mempunyai salah ya kawan – kawan. Terima kasih sudah menemani perjuangan saya sampai detik ini hehe….

Ayo kita bersama – sama mendoakan juga agar pandemi ini bisa berakhir. Banyak juga hal yang ingin saya lakukan di luar rumah pastinya. Bye bye !

Stay Tune

Stay Healthy

Stay at Home 

You Might Also Like

0 komentar