Review Jurnal : Nilai Hambur Balik Objek Bawah Air

 Assalamualaikum wr.wb 

Hai folks! 

Pernahkah kalian berpikir, untuk meneliti atau mengeksplor laut Indonesia yang begitu luas tentunya akan sangat sulit jika kita mengambil sampel semuanya. Yup.. pastinya kita hanya menginginkan wilayah perairan yang berpotensi saja, atau mencari sumber daya alam yang melimpah dan bisa dimanfaatkan. Oleh karenanya nilai hambur balik dari objek di suatu periaran sangat penting dibutuhkan agar kita mengetahui wilayah amana saja yang berpotensi dan menjadi lokasi eksplorasi. 


Oke... Berikut merupakan hasil review jurnal yang saya kerjakan : 

Jurnal yang di review

 

:

Hambur Balik Akustik Permukaan Substrat Dasar Perairan Menggunakan Echosounder Bim Tunggal

Baigo Hamuna, Listard Dimara, Sri Pujiyati, Nyoman Metta N. Natih

2018

Judul jurnal pembanding

 

:

Sebaran Spasial Volume Backscattering Strength Ikan Pelagis Di Danau Ranau, Sumatera Selatan

Aisyah, Totok Hestirianoto, Sri Pujiyati

2015

Sinopsis jurnal yang di review

 

:

Penelitian ini menjelaskan tentang analisis dari nilai hambur balik permukaan dasar perairan berupa pasir dan lumpur. Perekaman hambur balik dasar perairan menggunakan Echosounder bim tunggal SIMRAD EK 15 frekuensi 200 kHz. Penelitian dilakukan di wilayah Teluk Yos Sudarso Kota Jayapura Provinsi Papua. Pemnagmbilan sampel menggunakan metode grab. Hasil yang didapat nilai rata – rata dari hambur balik perairan berpasir yaitu antara -37.48 dB sampai -36.03 dB, substrat lumpu sebesar -46.98 dB sampai -45.15 dB. Hal ini menunjukkan bahwa substrat pasir memiliki tingkat kekerasan dan ukuran butir yang lebih besar dibandingkan jenis substrat lumpur. Secara akustik menunjukkan nilai hambur balik pasir akan lebih besar dibdangikan dengan substrat lumpur.

Metode yang digunakan

 

 

Perekaman data dilakukan di 3 lokasi dengan wilayah sebagai berikut :

Gambar 1. Peta lokasi penelitian di Teluk Yos Sudarso, Kota Jayapura, Papua 

Pengambilan sampel contoh dari substrat dilakukan tepat di bawah transducer yang kemudian disimpat untuk dianalisis. Nilai acoustic backscattering volume (Sv) diekstrak menggunakan software Echoview 4.0. Nilai Sv diolah menggunakan threshold minimal -50.00 dB dan maksimum 0 dB. Data dicuplik dengan satuan ESDU (Elementary Sampling Distance Unit). Prinsip dasar perhitungan nilai Sv menggunakan pendakatan sebagai berikut :

 

Keterangan :

Sv = acoustic backscattering volume

Ir = energi hambur balik dari satuan volume pada jarak 1 meter

Ii = Energi yang mengenai objek

Nilai SV diperoleh dengan menghubungkan nilai surface backscattering coefficient (Ss) dan bottom volume backscattering coefficient (Sv) sesuai persamaan :

Pada puncak echo dasar perairan, nilai integrasi Ψ ≈ Φ sehingga :


Keterangan :

Sv =  acoustic backscattering volume

Ss =  backscattering coefficien

Ψ = equivalent beam angle untuk volume scatteirng

τ  = waktu

Φ = instantaneous equivalent beam angle untuk surface scattering.

 

Hasil

 

:

Setiap pulsa akustik (echo) yang dipancarkan dan dipantulkan oleh target mengandung berbagai informasi. Masing-masing pantulan akan memberikan informasi yang berbeda sesuai dengan bentuk morfologi dasar perairan. Berikut adalah tampilan echogram dari hasil perekaman akustik menggunakan software Echoview 4.0 :

Gambar 2. Display echogram dari Echoview 4.0

Grafik menunjukkan adanya pantulan dasar perairan dan setiap target. Tekstur serta bentuk penyusun objek berpengaruh terhadap intensitas gema yang dipantulkan kembali. E1 memiliki nilai lebih tinggi karena gema dari dasar langsung diterima kembalioleh transducer. Sedangkan E2 gema dari dasar memantul terlebih dahulu ke permukaan dan kapal barulah kembali ke transducer. Nilai hambur balik juga bisa disebabkan oleh energi yang dipancarkan, jarak serta penyerapan hambur balik oleh medium. 

Adapun hasil kuantifikasi nilai SS substrat dasar sebagai berikut :

Nilai SS lebih rendah dibandingkan dengan nilai SV dikarenakan SS merupakan pantulan dari dasar perairan saja, sedangkan nilai SV yaitu nilai pantulan dasar berdasarkan dari permukaan yang tergantung dari kedalaman intergrasi. Data kuantitatif yang didapat kemudian diubah menjadi data kualitatif agar dapat memahami lebih detail melalui studi literatur. Nilai SS pasir memiliki rentang 12.97 dB sampai -13.96 dB, nilai SS lumpur berkisar pada rentang -19.25 dB sampai -30.87 dB, selanjutnya nilai SS pasir halus yang berkisar pada -14 dB sampai -19 dB. Hasil penelitian ini bisa menjadi acuan unutk mendeskripsikan suatu dasar melalui pendekatan kuantitatif berdasarkan ilai hambur balik objek.


Perbandingan jurnal yang di review dengan jurnal pembanding

 

:

Jurnal yang diriview lebih mendalami tentang karakteristik dasar perairan yang sepert apa saja. Berbeda dengan jurnal pembanding yang menyangkut pautkan parameter perairan untuk melihat kualitas perairan dan sebaran ikan pelagis.

Kemudian jurnal yang diriview menilik jangkaun yang lebih luas yaitu meneliti di laut lepas. Berbeda dengan jurnal pembanding yang meneliti di danau. Tepatnya danau Ranau, Sumatera Selatan.


Hal baru yang didapat dari jurnal yang diriview

 

:

Jurnal yang diriview dapat meneliti lebih dalam (secara vertikal) dibandingkan dengan jurnal pembanding.

 

Jurnal pendamping lebih menelti ke arah kondisi spasial saja. Sedangkan kita juga perlu untuk mengetahui kondisi di dalam perairan sendiri jugas seperti apa.

 

Oleh karenanya jurnal yang diriview menggunakan software Echoview 4.0 untuk melihat secara spesifik kondisi dalam perairan.

 


Pendapat saya mengenai kedua jurnal

 

:

Menurut saya jurnal yang diriview dan jurnal pembanding memiliki kebermnafaatan yang baik. Hanya saja memang memiliki tujuan yang berbeda. Dan tentunya jurnal yang diriview memiliki metode yang lebih advance dan terbarukan dibandingkan dengan jurnal pembanding. Jurnal yang diriview memiliki potensi untuk digunakan ekplorasi lebih luas, jurnal pendamping digunakan untuk kesesuaian kondisi periarn untuk objek tertentu saja. Namun, overall, keduanya dapat digunakan untuk melakukan research kealutan. 

Hal yang bisa dilakukan untuk penelitian selanjutnya

:

Penelitian lanjutan yang diperlukan adalah menggunkan instrumen yang berbeda contoh seperti instrumen hidroakustik multi beam. Agar melihat perbandingan dengan instrumen lain yang digunakan dalam meneliti substrat dasar. Sehingga akan terdapat kesimpulan instrumen yang paling tapat untuk digunakan dalam survei substrat dasar perairan.


You Might Also Like

0 komentar