Assalamualaikum wr.wb
Hai teman – teman meskipun saat ini kita sedang menjalanan
physical distancing tapi harus tetap produktif ya !
Seperti yang dilakukan saya bersama Kak Ella Mustika
Banyak target yang saya harus
capai dan saya harus lewati. Oh iya guys,
saya sempat sharing juga ke Kak Ella mengenai susahnya memanage waktu. Apalagi
kalau kalian punya goals yang lebih
dari satu. Kalian bisa ikut kelas – kelas online yang bisa diikuti. Salah
satunya tentang skill manage waktu.
Kemarin saya sudah research mengenai wadah kewirausahaan IPB ini. Kak Ella juga sebelumnya menyarankan coba cari tahu mengenai inkubator bisnis ini sipa tahu bisa membantu untuk langkah awal untuk membangun relasi.
Pada tanggal 3 Agustus 1994, IPB mendirikan Inkubator, menandai bermulanya suatu era baru dalam pelayanan usaha kecil menengah melalui program terpadu yang berlangsung selama 3 tahun masa inkubasi per usaha kecil menengah. Inkubator IPB diberi nama Pusat Inkubator Agribisnis dan Agroindustri (Pusat IAA-IPB) dan memberikan jasa terutama untuk usaha kecil menengah dalam bidang pertanian.
Inkubator Bisnis IPB ini merupakan lembaga inkubasi teknologi untuk memenuhi kebutuhan pengusaha pemula, dan juga pengusaha di bidang agribisnis agroindustri yang ingin mengembangkan perusahaannya menjadi perusahaan yang lebih kuat dan lebih besar (agibisnis dan agroindustri) namun memiliki kekurangan dalam hal modal, pengetahuan dan keterampilan lainnya. Mahasiswa dapat melakukan proses inkubasi melalui konsultasi setiap hari agar tenant menjadi kuat, mandiri dan berdaya saing. Konsultasi tersebut mencakup inovasi, transfer teknologi, manajemen usaha, penulisan business plan, pemasaran produk, dan fasilitasi sumber permodalan. Tenant inkubator memperoleh ruang usaha dengan sewa rendah; konsultasi kewirausahaan, teknologi dan manajemen usaha, penyusunan bisnis plan; serta akses kepada lembaga keuangan (kredit usaha) dan calon buyer (pembeli) serta fasilitasi perizinan usaha dan sertifikasi produk.
Hasil wawancara dengan pihak PANRITA
Karena goals besar saya adalah
membuat suatu start up, maka saya harus memiliki koneksi atau relasi dengan
start up lainnya agar saya bisa belajar bagaimana cara membuat start up yang
baik. Salah satu perusahaan yang dekat dengan lingkungan saya yaitu PANRITA. Sebelum
liburan kemarin saya berkesempatan untuk langsung mewawancarai Direktur PANRITA
yaitu Bang Mahesa Gagah atau saya biasa memanggilnya bang mahes.
PANRITA terbentuk pada tahun 2017 silam melalui program RISTEKDIKTI yaitu CPPBT (Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi) untuk perguruan tinggi. Dulu setiap perguruan tinggi harus memiliki calon perusahaan karena saat itu indeks penilaian perguruan tinggi yang baik salah satunya banyak menciptakan start up baru sebagai lapangan bagi masyarakat. Filososfi nama PANRITA sendiri diambil dari bahasa Bugis yang berarti “expert” atau “ahli” PANRITA bergerak sebagai penyedia layanan jasa alat jejaring konservasi kelautan untuk monitoring.
Sumber : Bang Mahes
PANRITA terbentuk pada tahun 2017 silam melalui program RISTEKDIKTI yaitu CPPBT (Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi) untuk perguruan tinggi. Dulu setiap perguruan tinggi harus memiliki calon perusahaan karena saat itu indeks penilaian perguruan tinggi yang baik salah satunya banyak menciptakan start up baru sebagai lapangan bagi masyarakat. Filososfi nama PANRITA sendiri diambil dari bahasa Bugis yang berarti “expert” atau “ahli” PANRITA bergerak sebagai penyedia layanan jasa alat jejaring konservasi kelautan untuk monitoring.
Pada tahun 2018 (tahun berikutnya) pihak PANRITA mengajukan
untuk menjadi sebuah perusahaan dan secara resmi menjadi perusahaan pada tahun
2019. Setelah menjadi perusahaan, PANRITA memulai untuk
memproduksi alatnya sendiri yang nantinya dijual ke masyarakat. Namun jasa penyedia
alat konservasi juga masih tetap berjalan. Tingkat penggunaan alat yang banyak
diminta oleh client dari perusahaan PANRITA adalah…
TREKFISH
Sedangkan alat dengan tingkat sewa paling banyak diminta
oleh client adalah MOTIWALI
Permintaan bermunculan karena memang alat – alat untuk
konservasi atau peralatan yang biasa dibeli mengani instrumen kelautan
terbilang jauh lebih mahal. Tapi, alat – alat yang ada di PANRITA tetap bisa
bersaing dengan yang ada di pasar guys.
Kalau kalian mau melihat atau tau detail informasi seperti
spesifikasi alat lebih lanjut
Hal yang bisa saya terapkan dari PANRITA kedepannya adalah mengeani teknis atau alur pembuatan sebauh start up itu seperti apa. Dimulai dengan mendaftarkan diri melalui wadah (inkubasi) atau kompetisi yang diadakan oleh organisasi maupun institusi terkait. Adapun pemilihan filosofi brand yang bagus dapat menarik perhatian para konsumen. Kualitas serta kuantitas dari produk juga tidak kalah penting demi memenuhi kebutuhan para client dan membuat roda bisnis terus berjalan. Aspek kepuasan konsumen juga sangat penting karena hal ini bisa menjadi acuan bagi para konsumen lain sehinga menciptakan kepercayaan para konsumen seperti yang sudah dirasakan PANRITA. Tentunya tidak mudah untuk mendapatkan gelar start up company. Selanjtunya yang saya harus siapkan adalah sebuah konsep bisnis matang yang akan saya buat di kemudian hari. Melalui Bang Mahesa saya bisa belajar di jalur yang tepat untuk memulai sebuah usaha baru di bidang perikanan dan kelautan.
2. Kelanjutan lomba
Pandemi COVID-19 menyebabkan
banyak acara dan event – event besar terpaksa diberhentkan. Sehingga,
Keberlanjutan project ini juga terpaksa harus diberhentikan terlebih dahulu.
Alhamdulilah, ada lomba yang memang dilaksanakan secara online jadi saya bisa
apply. Meskipun tema yang diusung tidak terlalu “menyentuh” AUV project yang
saya kerjakan kemarin. Tapi, tetap saya akan berjuang ! doakan saja ya teman –
teman. Semoga dengan mengikuti lomba – lomba ini hasil saya dan tim saya
kerjakan bisa ter – publish dan makin banyak orang yang mengenal tentang
Autonomous Underwater Vehicle (AUV).
Saya menceritakan tentang bagaimana hal ini akan berlanjut (publish AUV project saya). Kak Ella menyampaikan saran kalau saya juga tidak terlalu fokus untuk publish di ajang perlombaan tapi bisa saja dari semua platform. Berhubung saat ini banyak social media yang sering orang "pantengin" kenapa tidka sekalian saja untuk memposting kegiatan project saya disana. Well, itu menarik untuk dicoba namun sepertinnya saya juga harus membuat konten tersendiri sebelum saya upload di sosial media. Kedua, Kak Ella menyarankan untuk mengikuti ajang conference namun sepertinya ini bisa saya lakukan ketika pandemik COVID - 19 sudah selesai. Kak Ella menekankan sepertinya project sepertinya bisa membuat orang menarik karena belum banyak orang mengetahui AUV itu seperti apa, kegunannya itu apa, dan bentuknya itu sebenarnya seperti apa.
"Bisa saja nanti ada yang membutuhkan AUV kamu" ungkap kak EllaOh iya kak Ella juga bilang sambil berjalan, saya disarankan untuk mencari project baru yang sekiranya bisa saya lakukan untuk ke depannya. Saat itu saya mulai berpikir untuk ingin mencoba membuat semacam aplikasi di smartphone. Kebetulan juga saya belajar dari Kak Ella sendiri untuk berkecimpung di "dunia" perplatforman heheh ~
Pokonya stay produktif dan stay safe ya guys !
Softskill masih tetap bisa diasah dalam berbagai kesempatan


0 komentar