Sharing Session with Kak Fahdi : Face the Future

 

Hai guys !!

Gimana kabarnya? Saya harap kalian semua baik – baik saja! Tetap semangat menjalani hari yang masih dalam keadaan “pandemi”. Pada sesi kali ini saya ingin berbagi pengalaman saya yang bisa dibilang sesi deep talk bersama Kak Fahdi. Kenapa bisa dibilang deep talk? Karena menurut saya sharing session kali ini benar – benar membahas hal – hal yang berkaitan dengan permasalahan saya sebagai mahasiswa “tingkat akhir” juga sebagai persiapan di masa yang akan datang. So, siapkan catatan atau makanan ringan karena bahasan kali ini mungkin agak panjang dan berat untuk dicerna hehehe ~

 

Seperti biasa,

KENALAN DULU KUY!! DENGAN KAK FAHDI!



Kak Fahdi berkuliah S1 di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan jurusan Geofisika. Saat di ITB kak Fahdi mengambil minat di bidang seismic data. Setelah lulus, kak Fahdi bekerja di perusahaan multi nasional Schlumberger (So cool !!). Oh iya kak Fahdi juga sekaligus melanjutkan studi masternya sambil bekerja di Universitas Indonesia dengan jurusan master Geofisika. Kak Fahdi pernah menjadi Team leader saat di Kuala Lumpur dan saat ini sedang bertugas di Doha, Qatar. Keren pisan kan?


"Yeah cukup dengan rasa insecure nya wkkw~

Track record kak Fahdi memang keren banget" 

 

WAIT !!

Sebelum melanjutkan hasil sharing, mulanya saya dengan para awardee yang lain diberi himbauan oleh Kak Fahdi tentang beberapa definisi yang penting untuk dibahas saat sesi sharing. Jadi temen – temen juga harus memahami terlebih dahulu istilah – istilah pentingnya. 

Saya dan para awardee sudah menyamakan perspektif serta sudah merangkum apa yang sudah kami temukan sesuai dengan saran kak Fahdi. Berikut hasilnya :


Corporate Vision 

Corporate vision adalah sebuah goals perusahaan yang menjadi sebuah landasan perusahaan. Corporatt vision bisa dibilang sebagai citra tertinggi yang dilihat dari point of view masyarakat. Sebuah corporate vision memang tidak konkret, agar sifatnya berkelanjutan bagi perusahaan.

Contoh corporate vision


·         IKEA : “To create a better everyday life for the many people

·         Tesla : “To accelerate the world’s transition to sustainable energy

·         TED : "Spread ideas"

 

 

Objectives (Key Performance Objectives, KPO)

KPO (tujuan kinerja) sering kali digunakan sebagai barometer atau pengukuran untuk menentukan seberapa baik kinerja perusahaan (biasanya mengacu pada karyawannya).


SMART

SMART : akronim, memberikan kriteria sebagai pedoman dalam menetapkan tujuan, misalnya dalam manajemen proyek, manajemen kinerja karyawan dan pengembangan pribadi. SMART adalah singkatan dari specific (spesifik)measurable (dapat diukur), achievable (dapat tercapai), relevant (relevan), and time-bound (berkaitan dengan waktu).


KPI (Key Performance Indicator)

Sebuah tolak ukur seberapa efektif perusahaan mencapai tujuan bisnisnya. Biasanya KPI dapat menggambarkan timeline atau mission apalagi yang harus dicapai oleh perusahaan. Parameter yang dilihat dari KPI diantaranya adalah income perusahaan, kualitas SDM, pengeluaran perusahaan serta dampak perusahaan. 

 

Oke sampai disini, berarti kita sudah siap ke next chapter : sharing session !

Dimulai dari sebuah pertanyaan yang dilontarkan kak Fahdi :

 

“Jika kalian adalah sebuah perusahaan, apa yang akan menjadi corporate vision diri kalian sendiri?”  

Well, pasti saat kecil kita semua akan menjawab pertanyaan ini dengan hitungan detik. Tapi karena kita sudah memahami istilah – istilah di atas. Maka, kita harus berpikir sambil bengong sendiri sambil bertanya tanya di dalam hati.

“Apa ya… ?” Sebuah corporate vision bersifat tidak konkret dan continyu. Lalu kira – kira apa yang harus saya pilih?

Setelah lumyan lama berpikir akhirnya saya memutuskan untuk memiliki sebuah visi :

“Menjadi ahli teknologi di bidang kelautan” Jujur, saya menjawab pertanyaan ini dengan ragu.

Saya pernah mendengar seorang alumnus di fakultas saya yang bilang kalau kehidupan pasca kuliah itu tidak bisa diprediksi. Kebanyakan para fresh graduate nantinya akan memulai fase “realistis” yang mana dia akan terus menerus mempertahankan sudut pandngnya bahwa :

“Saya harus kerja sesuai jurusan saya!”

Dalam fase ini, akan ada seleksi alam. Ada yang memang dia berhasil dan menjalankan pekerjaan yang sesuai dengan jurusannya. Namun ada juga orang yang mulai mempertanyakan

“Apa saya bahagia?, Apa materi yang saya dapatkan sepadan? Apa saya bisa menutupi hasil jerih payah orang tua saya?”

Yang kemudian akan berlanjut ke fase selanjutnya yaitu fase “impact situation”. Inilah yang kemudian kak Fahdi bahas. Setiap manusia yang ada di dunia akan selalu bertemu dengan sebuah “keraguan” di dalam hidupnya. Bahkan kak Fahdi sendiri sampai sekarang pun belum mengetahui apakah pekerjaan saat ini yang sedang dijalaninya adalah suatu “kebenaran”. Apakah itu memang jalan terbaik baginya? Well saya sendiri pun bingung orang seperti kak Fahdi yang sudah bekerja di perusahaan multi nasional pernah memiliki keraguan dalam hidupnya. Karena saya pun berpikir, kalau ditarik garis merah sebenarnya kak Fahdi ini termasuk orang yang berhasil pada fase “realistis”. Namun ternyata, orang yang dikatakan berhasil pada fase ini pun masih memiliki keraguan.

“Hal itu akan terus berlanjut, Ngga ada yang beneran Quarter life crisis. Karena nantinya juga ada 30 Life cirisi, Half life crisis. Dan keadaan – keadaan selanjutnya”. Ucap kak Fahdi  

Yang pada akhirnya, sebenarnya kita menjalani semua itu dengan memilih apa yang menurut kita benar, nyaman, dan bahagia pada pilihan itu. Karena bagaimana kita bisa tahu jalan yang kita ambil terasa salah atau benar jika kita tidak punya keberanian untuk mencobanya?

Pepatah pernah mengatakan :

“Jika kamu dalam suatu kompetisi dan pada saat itu kamu sudah mulai berusaha, setidaknya kamu sudah memiliki kemungkinan 50% untuk menang”

So, semua pilihan itu sebenarnya ada opportunity cost nya.

Kak Fahdi menambahkan :

“Ngga masalah jika kamu memilih untuk langsung bekerja atau melanjutkan studi terlebih dahulu atau kerja bukan menurut bidangmu”

 

Semua hal itu membuat saya pun kembali terdiam dan memikirkan apa yang sudah ucapkan saat pertama kali saya bilang mengenai corporate vision saya. Saya baru memikirkan apa yang sebenarnya hal – hal yang saya sukai selain dari bidang kelautan. Seperti teknologi, musik, bisnis dan masih banyak lagi. Akan tetapi satu prinsip saya, se-melenceng apapun pekerjaan yang akan saya pilih di masa yang akan datang, setidaknya saya tetap harus mengamalkan ilmu yang sudah saya dapatkan saat kuliah. Sekecil apapun itu. Meskipun saya berharap saya tetap bisa berhasil melalui fase “realistis” saya nanti. Well who knows? Tidak ada satu orang pun yang bisa menguasai segalanya. Pasti ada hal yang harus dikorbankan. Ibaratkan jika kalian dihadapkan pada kondisi sibuk dengan organisasi, lomba, part time namun kalian harus tetap mempertahankan kondisi akademik kalian di perkuliahan. Maka kalaian harus mengorbankan waktu – waktu yang lain seperti waktu tidur, waktu bermain, waktu berlibur dan waktu – waktu lainnya.

Menyimak dari yang sudah dijelaskan oleh kak Fahdi mengenai Corporate vision, KPO, KPI dan SMART. Saya mengambil kesimpulan :

“Meskipun saya mengambil visi yang memang tidak konkret, tetapi untuk menggapai visi tersebut memerlukan sebuah parameter – parameter yang mendukung dalam menjalaninya”

 

Contonhnya seperti achievement apa saja yang harus saya raih, pengalaman bekerja dimana saja yang harus saya dapat, skill apa saja yang harus dipersiapkan. Hal ini menjadi statement bahwa sebenarnya selalu ada kuantitatif dalam prospek kualitatif. Semua itu bisa diukur, sudah sejauh mana saya melangkah untuk menggapai visi saya.

“Pokonya nanti kalau kalian lulus cerita lagi aja sama saya, gimana kehidupan pasca kampus kalian jalan mana yang kalian ambil”. Ucap kak Fahdi

 

Jika kita kaitkan dengan istilah – istilah penting yang sudah kita pahami sebelumnya, inilah pertanyaan – pertanyaan yang akan datang menanti :

Corporate vision :

Apa visi terbesar dari hidupmu ?

Key Performance Objectives (KPO)

Hal apa saja yang sudah menjadi tolak ukur kamu bisa untuk menggapainya?

SMART :

Apa strategi kamu untuk memenuhi visi tersebut?

Key Performance Indicator (KPI) :

Apakah kamu sudah mempunyai timeline pencapaian untuk mulai mencoba meraih visimu?

 

Actually, ini menjadi pertanyaan saya tiap malam, jika sedang memasuki Waktu Indonesia Bagian Overthinking (WIO) wkwk ~ Tapi jangan salah, sudah ada beberapa pertanyaan – pertanyaan besar yang ada pada diri saya dan mulai terpecahkan. So, siapkan diri kalian ya teman – teman !

 

Kalau memang hidup itu pilihan,

Maka sukses juga salah satunya ! 

 


You Might Also Like

0 komentar